Benar kamu sayang aku ? Sungguh ? Bukankah itu hanya basa-basi mu ?
Jika memang benar, maka aku tidak mau menyia-nyiakanmu..
Aku tidak mau menyia-nyiakan orang yang menyayangiku.
Tapi disisi lain, kamu juga punya dia...
Dia yang (juga) kamu sayang.
Jadi aku terpaksa harus menjauh, menjauh darimu..
Hilang, pergi darimu...
Bukan untuk menyia-nyiakan...
Sekali lagi ku katakan, aku tidak ingin menyia-nyiakanmu.
Jadi sesungguhnya yang aku lakukan itu adalah suatu pendewasaan.
Aku lakukan itu untuk Mengalah...
Aku merelakanmu, aku ingin bisa merelakanmu hanya untuk dia.
Dia yang lebih kamu kasihi...
Aku tak sanggup melihatmu Dilema,
Aku tak sanggup melihatmu tak berdaya dalam menentukan pilihan,
Aku tak sanggup !
Sungguh ku menyayangimu...
Aku sayang kamu walau hanya dalam pertemuan kita yang singkat tapi sungguh, aku tidak bohong aku sayang kamu.
Kamu mau bukti ?
Sudahlah... aku rasa kamu pun telah menyadari itu.
Sungguh singkat memang, namun sangat berarti bagiku pertemuan kita itu.
Sungguh aku ingin kamu, tapi jangan kau manfaatkan keinginanku ku mohon !
Kamu punya dia yang lebih segalanya dari aku,
Dan aku bukanlah siapa-siapa bagimu.
Tak pernah kau anggap aku,
Kalau aku bisa mengeluh di depanmu, mungkin aku sudah meronta-ronta di depan matamu !
Jujur aku sakit saat ku dengar ceritamu tentangnya.
Aku iri, aku ingin seperti dia yan kamu sayang, yang kamu miliki.
Tidak seperti aku yang hanya berkhayal, berkhayal, bermimpi dan berkhayal.
Kamu punya hati kan ?
Bagaimanapun juga, aku hanyalah seorang wanita biasa,
Wanita yang tidak memiliki kekuatan cukup dalam menahan sakit.
Dalam lubuk hati yang paling dalam, aku juga ingin kepastian dari kamu.
Aku butuh kepastian itu.
Jangan kau siksa aku dengan menduakan hatiku,
Bagaimanapun aku juga wanita,
Aku hanyalah seorang wanita biasa yang ingin dirinya adalah satu-satunya orang yang disayang dan dikasihi.
:'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar